About

Selamat Datang di Blog Saya

www.memelmemel.co.cc

Game Technology

www.GameTechnology.info.

Melinda Safitri

melinda_graduex@yahoo.com.

My Friend's GT Family

Kunjungan Makam Giri Tunggal.

Bareng Cinta Laura

Suara Semarang.

Selasa, 11 Juni 2013

CERITA LUCU : KETENDANG KUDA



Sore itu hujan deras sekali, Ayah sedang berada di rumah Om Santo. Ayah menelpon Amel untuk menyuruh menjemputnya kala itu, mau tidak mau Amel  harus berangkat untuk menjemput Ayah. Biasanya Ayah pergi bawa motor sendiri tapi waktu itu beliau pergi dijemput dengan Om Santo. Ibu udah bilang “Nanti dulu Mel, nunghu hujanya reda.” Tapi Amel nekat, pergilah dia ke Rumah Om Santo yang tidak terlalu jauh dari rumahnya menggunakan kendaraan bermotor. Sampainya disana Ayah sudah menunggunya, tak lama Ayah berpamitan kepada Om Santo untuk pulang, Amel juga tak lupa pamit mencium tangan Om Santo. Om Santo adalah Adik kandung Ayah jadi sudah semestinya Amel bersikap baik dengannya. Tiba waktunya Amel dan Ayah pulang dengan bergoncengan, dalam perjalananya mereka melewati jalan yang masih tanah atau belum di aspal. Saat mereka melewati jalan itu terdapat kuda yang diikat ke pohon dan sedang makan, posisi kuda itu membelakangi Ayah dan Amel saat melewatinya. Dari jauh Amel sudah melihatnya, Amel sudah waspada saat melewati kuda itu tapi karena Ayah yang menyetir motornya Amel tidak bisa mengendalikan arah motor, saat mau melewati kuda Ayah lewat terlalu dekat sama kaki kuda karena mungkin si kuda kaget dengan bunyi motor mereka kaki kuda langsung nendang ke belakang dan mengenai Amel. Jeritan sambil pukulan langsung dilayangkan Amel ke Ayah. “Ayah itu lo, jangan mepet-mepet sama kudanya, aku ketendang ini, sakit yah..” protes Amel. “Maaf ya, tadi Ayah menghindari kubangan air makanya Ayah lewatnya agak dekat kuda yang nggak ada kubangan air.” Jawab Ayah.

Terbit : Majalah Mop Edisi Mei 2013 (Melinda Safitri/Unika Soegijapranata Semarang)

Senin, 01 April 2013

Cerbung: Kematian Diva Bagian 2



Mata ayah Diva mulai memerah seakan ingin meneteskan air matanya. “Semenjak kepergian kalian ke Bali, selang satu minggu Diva masuk rumah sakit. Saat itu kita baru tahu kalau ternyata Diva menderita penyakit Kanker Otak. Dokter bilang kanker otak yang diderita Diva sudah memasuki stadium akhir, sampai saat ini Diva bisa bertahan hidup karena ada obat yang membantunya dan selama ini Diva rutin mengkonsumsi obat itu.” Ayah Diva menjelaskan.
            “Lalu kenapa sekarang Diva kritis?” ayah Jovi semakin penasaran.
            “Mungkin sudah jalannya yang diatas. Walaupun kita sudah berupaya sekuat mungkin tetap Tuhan yang menentukan.” Ayah Diva mengusap air matanya.
            “Yang sabar ya gung, ini adalah ujian dari sang pencipta.” Ayah Jovi mengelus punggung ayah Diva.
            “Tante, Jovi boleh liat Diva?” pinta Jovi.
            “Boleh sayang, tapi Jovi harus pake baju rumah sakit dulu ya. Soalnya keadaan Diva masih sangat kritis.” Ibu Diva memberitahu. “iya tante.”
            “Jovi bawa apa buat Diva?”  ibu Diva mengusap air matanya.
            “Jovi bawain Diva boneka tante. Hari ini Diva ulang tahun, Jovi pernah berjanji tepat di ulang tahun Diva yang ke 14 tahun, Jovi akan datang menemuinya.” Mata Jovi sedikit berkaca-kaca dan ibu Diva semakin meneteskan air matanya.
            “Masuklah nak, Diva pasti sangat menunggu kehadiranmu.” Ibu Diva membelai rambut Jovi.
****
            Sampailah Jovi di kamar Diva, Diva terlihat terbujur lemas di ranjangnya. Jovi mulai mendekat ke ranjang itu. Dia tidak sanggup harus berbicara apa melihat kondisi sahabat kecilnya yang terbujur lemas di kelilingi dengan selang-selang di wajahnya, infus di pergelangan tangannya. Lalu Jovi mulai memegang tangan Diva.
            “Hay Diva…, inget nggak siapa aku? Laki-laki tampan yang mirip sama Dimas Anggara. Kamu masih ingat gag, gimana kita bercanda dulu? Kamu selalu bilang kalau aku mirip Dimas Anggara, padahal aku jauh lebih tampan darinya. Div, hari ini aku datang untuk nepati janji aku nemuin kamu, aku ingin ngucapin selamat ulang tahun yang ke empat belas buat kamu. Nih, aku bawain boneka buat kamu….., kamu kok diam saja Div? kamu nggak suka ya aku datang?” Jovi mulai menangis.
            “Bukalah mata kamu Div, jika aku bisa memutar sebuah waktu maka aku tidak akan pernah meninggalkanmu kala itu. Aku mohon bangunlah, aku janji jika kamu mau bangun aku akan menuruti semua permintaan kamu. Aku mohon Div, kamu bangun. Aku ingin melihat senyum kamu…” Jovi memegang erat tangan Diva.
            “Jo—v-ii..” Diva memanggil namanya.
            “Divvvvv, iya ini aku Jovi.. “ Jovi kaget dan teriak senang.
            Perlahan Diva membuka matanya. “Makasih udah mau datang,.” Nada suara Diva lirih.
            “Selamat ulang tahun Diva. Semoga kamu cepat sembuh dan bisa main lagi sama aku, kita main layang-layang lagi.” Jovi memberinya ucapan selamat.
            “bawalah aku pergi ketaman Jov, aku ingin melihat layang-layang di luar bersama kamu.” Diva meminta Jovi membawanya ke taman.
            “Tapi kamu masih sakit Diva. Dokter tidak akan mengijinkan kamu keluar kamar.” Jovi terus memegangi tangan Diva.
            “Aku mohon, bawa aku keluar kamar.” Menatap tajam Jovi.
            “Tunggu sebentar, aku akan ijin sama Ibu dan Ayah serta Dokter dulu.” Jovi keluar kamar tempat Diva berbaring.
****
            “Jov, “ panggil lirih Diva
            “Iya Div?” jawab Jovi sambil mendorong kursi roda Diva.
            “Aku boleh minta satu permintaan?” Diva memandang Jovi.
            “Apapun yang kamu minta Div, akan aku turuti. Itu janjiku sama kamu saat tadi kamu belum membuka mata.” Jovi menghentikan jalannya dan duduk di kursi taman rumah sakit.
            “Aku ingin kamu menganggap Ibu dan Ayahku seperti Ibu dan Ayah kandungmu sendiri.” Ucap Diva pelan.
            “Kenapa Div?” Jovi bingung dengan ucapan Diva.
            “Ibu dan Ayah ku hanya memiliki aku seorang, aku minta jika aku meninggal mereka tidak kesepian karena masih ada kamu yang mau menemani mereka, kamu maukan menjadi anak angkat ibu dan ayah untuk mengantikan aku?.” Diva memberikan sedikit senyuman kecil.
            “Kamu nggak boleh bicara seperti itu, kamu nggak akan kemana-mana. Kamu akan tetap disini bersama ku, ibu dan ayah.” Jovi meneteskan air mata.
            “Hanya itu yang aku minta darimu, maukah kamu berjanji padaku?” Diva mengulurkan jari kelingkingnya.
            “Demi kamu, aku berjanji.’ Jovi membalas uluran kelingking Diva.
            “Lihat layang-layang itu Jov, ada sepasang. Cantik ya? Yahhh putus satu  .. “ Diva menunjuk layang-layang di atas awan. “aku berharap jika aku seperti layang-layang yang jatuh itu, aku ingin kamu masih tetap bisa berdiri. Seperti layang-layang yang masih tetap melayang di awan sana. Walaupun temannya sudah terputus tetapi dirinya masih mempertahankan untuk tetap melayang di udara. Aku ingin kamu seperti itu. Tetap tegar walau aku sudah tidak bisa menemanimu lagi.” Kepala Diva yang telah bersandar di bahu Jovi.
            “Kamu nggak akan kemana-mana Diva, kamu akan tetap disini menemaniku bermain layang-layang. Kamu masih mau kan bermain layang-layang denganku?” Jovi memandang layang-layang itu.
            Diva tidak menjawab  ajakan Jovi. “Div,.” panggilan pertama. “Kamu masih mau kan main layang-layang bareng aku?” Jovi mengulangi ajakannya. Kali ini Diva tetap tidak menjawab. “Div, Diva?” Jovi panik melihat mata Diva terpejam.
            “Div, Diva bangun Div?? Jovi nggak ingin Diva pergi. Divaaaa bangunnnnnn ……” air mata Jovi tidak terbendungkan lagi. Dirinya memeluk Diva sangat erat. Jovi memegang dada untuk memastikan jantungnya masih berdetak, namun detak jantungnya sudah berhenti. Diva meninggal Dunia.
            Tepat di hari Ulang Tahun Diva ke 14 Tahun dia dipanggil oleh sang pencipta. Kedatangan Jovi untuk menemui Diva menjadikan kabar buruk untuk dirinya. Pertemuan yang pertama dengan Diva setelah sekian tahun dan menjadi pertemuan terahkir Jovi dengan Diva untuk selama-lamanya.

Jumat, 29 Maret 2013

Festival Game And Entrepreneur


Warta Jateng 1 Maret 2013
Setelah sukses menyelenggarakan Festival Game And Entrepreneur tahun yang lalu, kini program Game Technology Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata Semarang kembali mengadakan acara serupa di tahun 2013. Acara dijadwalkan digelar ada hari Sabtu, 9 Maret 2013 di Gedung Thomas Aquinas Unika Soegijapranata. Adapun acara festival game and Entrepeneur terdiri dari tiga kegiatan yaitu ini terdiri dari 3 (tiga) kegiatan, yaitu Seminar Nasional Game & Entrepreneur “Menajamkan Pendidikan melalui Pengembangan Game” (Umum), Lomba Karya Game Edukasi (Umum), Call of Paper “Peran Teknologi Informasi dalam Edukasi” (Umum). Bagi yang berminat, silahkan bisa mendaftarkan diri dan tim anda segera! Informasi lebih lanjut kunjungi www.gametechnology.info. Untuk contact person, bisa menghubungi Putra (085641459495), Desy (089668886506), Vienna(0812225207934)


Senin, 04 Maret 2013

Cerbung: Kematian Diva Bagian 1



Malam terasa begitu dingin kala itu. Rembulan nampak terang, dan bintang berceceran di langit. Diva yang sedari tadi hanya duduk sendiri dan melamun di balkon kamarnya.
            Hatinya terasa sedih, hanya bintang-bintang itulah yang menjadi teman ceritanya saat malam tiba semenjak kepergian Jovi, sahabat kecilnya.
            Saat ini diva duduk bangku sekolah menengah pertama kelas dua. Malam itu diva membanyangkan saat dirinya bersama Jovi lima tahun yang lalu. Saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga.
            “Diva, ayo kita bermain layang-layang di taman.” Ajak jovi sore itu.
            “Iya jov, bentar aku pamitan dulu ya sama ibu.” Dengan raut muka yang gembira.
            Diva lari masuk ke dalam rumah untuk meminta izin sama ibu, sedangkan jovi senantiasa menunggu Diva dengan duduk di bangku teras rumah sambil membalik-balik layangan yang sudah dibawanya.
            “Yuk Jov, kita pergi ketaman. Ibu mengijinka asal mereka pulang tidak terlalu malam.” Terdengar suara yang sangat gembira.
            “Oke. Ayukk” Jovi dan Diva berjalan keluar rumah bersama.
            Taman yang tidak jauh dari rumah Diva membuat mereka cepat sampai. Kebetulan hari ini taman sepi jadi Jovi dan Diva bisa leluasa dalam bermain.
            “Diva, kamu tarik ya layanganya..” Jovi memberi intruksi kepada Diva.
            “Kamu ulur dong Jov benangnya!!” gentian Diva yang menginstruksi.
            Layangan Jovi dan Diva ahkirnya bisa terbang juga. “Yeeeeeeeee, layanganya bisa terbang,…” Diva loncat-loncat kegirangan.
            “Kamu mau  mencoba memegang senar benangnya Diva?” Jovi menawarkan.
            “Mau-mau.  Bagaimana caranya Jov?” Dengan senang hati Diva menerimanya.
            “Begini, kamu ulur saja benangnya kalau mau layangan tambah tinggi tapi pelan-pelan. Terus kalau ada musuh yang mendekati kamu bisa tarik benangnya supaya layang-layangnya memendek menghindari musuh, seperti ini. Mudah kan?” Jovi memberitahui caranya sambil mempraktekan, melihatkan ke Diva.
            “Wahhhh, mana sini aku mau mencobanya Jov.” Tak sabar Diva ingin mencobanya.
            Jovi memberikan benang senar yang  ia bawa. Gulungan benang yang berada di kaleng masih banyak. Diva mencoba mengulurnya karena dia merasa tidak ada musuh di samping kananya. Tapi tiba-tiba musuh datang dari arah Barat dan Utara. Layang-layang Diva dan Jovi berada di tengah-tengahnya.
            Jovi yang baru sebentar pamitan ke penjual asongan merasa terkejut saat kembali datang menemui Diva.
            “Diva, awassss… layangan kamu dihimpit oleh dua layangan milik orang lain. “ Jovi teriak kencang dan terkejut.
            “Aduh Jovi ini bagaimana, Diva nggak tau.” Diva gugup bingung apa yang harus dilakukana.
            “Yeahhhhhhhhhh,……” Jovi seperti merasa kecewa melihat layanganya putus.
            “Kamu bagaimana sih Diva? Kok tidak kamu tarik benangnya, biar layangan kita memendek.” Nada suara Jovi sedikit membentak.
            “Maafin aku Jov, Diva nggak sengaja mutusin layanganya. Diva nggak tau, diva jadi lupa sama ucapan Jovi sangking gugupnya..” Wajah diva langsung berubah sedih dan menunduk.
            “Lain kali dengerin kata-kata Jovi dong, biar layangan kita nggak di putus sama lawan !” suara Jovi semakin keras.
            Terdengar suara senduan Diva yang ternyata dirinya menangis. “Diva minta maaaffff ,” sambil mengusap air matanya.
            “Diva jangan nangis dong, Jovi minta maaf udah buat Diva nangis. Diva nggak salah kok, Jovi yang salah sudah ninggalin Diva sendirian. Maafin Jovi ya??” tangan Jovi mengusap air mata Diva.
            “Iya, Diva maafin. Diva juga di maafin ya?” menatap mata Jovi.
            “Iya udah pasti kok dimaafin. Yaudah berhubung kita juga Cuma bawa satu layang-layang dan sekarang layanganya udah putus, bagaimana kalau kita pulang saja lagian udah mau magrib takutnya Diva dicariin sama ibu.” Jovi mengajak Diva untuk pulang.
            “Yuk. Ibu juga tadi pesanya jangan pulang malam.” Ucap Diva
            Diva melamunkan kejadian saat sedang bermain layang-layang dengan Jovi 5 tahun yang lalu di taman.
****
            Diva rindu dengan Jovi, semenjak Jovi pindah sekolah karena Ayahnya dipindah tugaskan ke Bali. Sudah lima tahun berlalu tapi Diva masih tetap menunggu kedatangan Jovi.
            Saat kepergian Jovi dirinya berpesan kepada Diva kalau nanti dia akan datang tepat di usia Diva ke empat belas tahun. Bulan depan adalah hari dimana Diva menginjak usia empat belas tahun yang jatuh pada tanggal 11 Mei. “Apa mungkin Jovi masih ingat dengan janjinya? Apakah tepat di usianya ke 14 tahun dia akan datang menemuiku?” Diva berbicara sendiri sambil menatap bintang.
            “Diva sayaanggggg, sudah minum obat nak?” suara ibu terdengar dari depan pintu kamar Diva.
            “Iya buu, bentar …” berjalan membukakan pintu ibu.
            “Sayangg, diminum dulu dong obatnya. Ingat pesan dokter, nggak boleh telat minum obat.” Ibu membelai rambut Diva.
            “Iya Bu, Diva ngerti kok. Diva juga udah gede, diva ingat semua pesan Dokter. Ibu nggak perlu lagi setiap hari mengingatkan Diva.” Wajah Diva berubah menjadi sedih.
            “Nggak begitu sayang, ibu Cuma nggak ingin Divaa…,” ucapan ibu terhenti.
            “Iya ibu, Diva tau. Yaudah Diva masuk kekamar dulu mau minum obat.”
            “Iya sayang. Good Night.” Ibu mencium kening Diva.
            “Goog Night Too, Bu.” Menutup pintu kamarnya.
             Hari ini adalah tepat tanggal kelahiran Diva. “tok..tok..tok..” terdengar ketukan pintu rumah Diva.
            “Siapa ya?” pembantu Diva yang membukakan pintu rumah.
            “Saya Bi, Jovi teman kecilnya Diva.” Jovi memperkenalkan dirinya.
            “Ohh, den Jovi. Sekarang sudah segede ini. Mau cari Non Diva?” Bibi terkejut melihat kedatangan Jovi yang sudah lama tidak berjumpa.
            “Iya Bi, Diva nya ada?” Tanya Jovi.
            “Non Diva?????” wajah Bibi tiba-tiba menjadi pucat.
            Tidak lama keluar dari rumah Diva, Jovi beserta Ayah dan Ibunya tiba di rumah sakit. Bibi bilang Diva sekarang sedang di rawat di Rumah Sakit. Jovi Tanya, kenapa Diva bisa dirawat tapi Bibi nggak mau menjelaskan. Ahkirnya Jovi hanya minta alamat rumah sakitnya.
            “Andi?Ratna?Kok kalian ada di sini?” ayah Diva terkejut melihat kedatangan ayah dan Ibunya Jovi, mereka adalah tetanggan dulu.
            “Mbak Ratna apa kabar?” Ibu Diva memeluk ibu Jovi.
            “Baik kok mbak. Mbak juga bagaimana kabarnya?” ibu jovi balik bertanya.
            “Sepertinya kurang baik mbak. Hay, kamu Jovi bukan?teman kecilnya Diva?” Ibu nya Diva memerhatikan Jovi.
            “Iya tante. Saya Jovi teman kecilnya Diva.” Jovi mencium tangan ibunya Diva.
            “Kenapa Diva bisa dirawat di rumah sakit Gung?” Tanya Ayah Jovi kepada Ayah Diva.